ILMU PENDIDIKAN ISLAM;

Memahami Konsep Dasar dan Lingkup Kajian

Oleh; Wahdi Sayuti

A. Pengertian Pendidikan Islam

Memahami pendidikan Islam dapat ditelusuri melalui keseluruhan sejarah kemunculan Islam itu sendiri. Tentu saja untuk memahaminya, tidaklah dipahami sebagai sebuah sistem pendidikan yang sudah mapan dan sistematis, melainkan proses pendidikan lebih banyak terjadi secara insidental bahkan mungkin lebih banyak yang bersifat jawaban dari berbagai problematika yang berkembang pada masa itu.Pendidikan dalam Islam, secara bahasa memiliki terma yang sangat varian. Perbedaan ini tidak terlepas dari banyaknya istilah yang muncul dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits—sebagai sumber rujukan utama pendidikan Islam—yang menyebutkan kata (kalimah) yang memiliki konotasi pendidikan atau pengajaran. Setidaknya, ada empat (4) istilah yang digunakan untuk menyebutkan makna pendidikan, misalnya tarbiyah, ta’dib, ta’lim dan riyadhah. Tiga (3) dari empat (4) istilah tersebut pernah direkomendasikan oleh Konfrensi Internasional I tentang Pendidikan Islam di Mekkah pada tahun 1977.[1] Masing-masing terma tersebut, jelas memiliki aksentuasi dan implikasi yang berbeda. Berikut akan dijelaskan masing-masing istilah tersebut.


1. Al-Tarbiyah

Menurut Abdurrahman Al-Nahlawi, kata tarbiyah secara bahasa merupakan kata yang berasal tiga (3) akar kata, yakni, pertama raba – yarbu, yang berarti bertambah atau bertumbuh. Pengertian ini dapat dilihat dalam Al-Qur’an, surat Al-Rum, ayat 39.[2] Kedua, berasal dari rabiya-yarba, yang berarti menjadi dasar, dan yang ketiga, rabba-yarubbu, yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntut, menjaga dan memelihara. Pengertian ini dapat dilihat pada Al-Qur’an, surat Al-Isra, ayat 24.[3] Sementara, menurut Naquib Al-Attas, kata tarbiyah mengandung konotasi mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, menumbuhkan (membentuk) dan juga menjadikannya lebih matang. Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan Al-Tarbiyah adalah proses mengasuh, membina, mengembangkan, memelihara serta menjadi kematangan bagi suatu objek. Bahkan dalam hal ini, Imam Baidawi memperjelas makna Tarbiyah dengan “Al Rabbu fi al Ashli bima’na al-Tarbiyah, wahiya al-Tabligh al-Syai’u ila kamalihi syai’an fa syay’an (Al-Rabb asal katanya bermakna Tarbiyah, yakni menyampaikan atau mengantarkan sesuatu menuju ke arah kesempurnaan sedikti demi sedikit).

2. Al-Ta’dib

Kata Ta’dib merupakan bentuk masdar dari kata addaba, yang berarti pengenalan dan pengakuan yang secara bertahap ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan Kekuasaan dan Keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya.[4] Pengertian ini didasarkan pada Hadits Rasulullah saw. yang mengatakan “addabani rabbi fa ahsana ta’dibi” (Tuhanku telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku). Kata Ta’dib ini menurut Naquib Al-Attas merupakan istilah yang lebih mendekati pemahaman ilm. Atau dengan kata lain Ta’dib dipahami sebagai istilah pendidikan yang lebih mengarah pada proses pembelajaran, pengetahuan dan pengasuhan. Oleh karenanya, Naquib beranggapan bahwa penggunaan istilah Ta’dib lebih proporsional ketimbang istilah Tarbiyah untuk menyebut istilah Pendidikan Islam.

3. Al-Ta’lim

Menurut Abdul Fattah Jalal dalam buku Minal Ushul al-Tarbawiyah fi al-Islam, istilah Ta’lim diartikan dengan proses yang terus menerus diusahakan manusia sejak lahir untuk melakukan pembinaan pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah.[5] Batasan pengertian ini dipahami lebih luas cakupannya dibandingkan dengan istilah Al-Tarbiyah, terutama dalam konteks sequency (cakupan dan wilayah) subjek atau objek didiknya. Sementara menurut Athiyah Al-Abrasy, ta’lim diartikan dengan upaya menyiapkan individu dengan mengacu pada aspek-aspek tertentu saja. Al-Ta’lim merupakan bagian kecil dari al-tarbiyah alaqliyah, yang hanya mencakup domaik kognitif saja dan tidak menyentuh aspek (domain) afektif dan psikomotorik.

4. Riyadhah

Istilah riyadhah merupakan istilah pendidikan yang digunakan dan dikembangkan oleh Imam Al-Ghazali untuk menyebutkan istilah pelatihan terhadap pribadi individu pada fase anak-anak, atau yang dikenal dengan riyadhatusshibyan.[6] Imam Al-Ghazali dalam mendidik anak, lebih menekankan pada domain afektif dan psikomotor dibandingkan penguasan dan pengisian domain kognitif (intelektual).

Dalam praksisnya, para pakar berbeda pendapat mengenai definisi pendidikan Islam itu sendiri. Berikut beberapa pendapat para ahli pendidikan Islam dalam mendefinisikan istilah Pendidikan Islam;

a. Muhammad Athiyah Al Abrasyi; “Pendidikan Islam (Al Tarbiyah Al Islamiyah) adalah usaha untuk menyiapkan manusia agar hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, sempurna budi pekertinya, teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaan, manis tutur katanya baik lisan maupun tulisan.

b. D. Marimba; Pendidikan Islam merupakan bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.

c. M. Yusuf Al Qardawi; pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan ketrampilannya. Karenanya pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya serta manis dan pahitnya.[7]

d. Hasan Langgulung; Pendidikan Islam merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.[8]

e. Azyumardi Azra; Pendidikan Islam merupakan salah satu aspek saja dari ajaran Islam secara keseluruhan. Karenanya, tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertaqwa kepada-Nya dan dapat mencapai kehidupan berbahagia di dunia dan akhirat.[9]

f. Zakiyah Daradjat; Pendidikan Islam merupakan proses pembentukan kepribadian manusia sebagai muslim.[10]

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah proses bimbingan kepada manusia yang mencakup jasmani dan rohani yang berdasarkan pada ajaran dan dogma agama (Islam) agar terbentuk kepribadian yang utama menurut aturan Islam dalam kehidupannya sehingga kelak memperoleh kebahagiaan di akhirat nanti.

Pertanyaan yang muncul dan dapat didiskusikan adalah dari beberapa istilah tersebut (tarbiyah, ta’dib, ta’lim dan riyadhah) manakah yang relevan untuk menyebutkan dan mewakili istilah pendidikan Islam?, Pertanyaan lain yang dapat dimunculkan adalah “apakah pendidikan Islam itu sama atau berbeda dengan pendidikan pada umumnya berkaitan dengan dasar (sumber), orientasi serta nilai yang ditransfer”.

B. Pengertian Ilmu Pendidikan Islam

Secara sederhana yang dimaksud dengan Ilmu Pendidikan Islam adalah ilmu yang membahas dan memuat teori tentang pendidikan Islam. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan apakah dalam Ilmu Pendidikan Islam, terdapat teori yang tidak berdasarkan Islam?. Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Ilmu Pendidikan Islam ini, maka akan diulas terlebih dulu mengenai pengertian ilmu itu sendiri. Menurut Ahmad Tafsir, Ilmu merupakan pengetahuan yang logis dan mempunyai bukti empirik dan dilakukan dengan cara riset (penelitian).[11] Singkatnya—menurut Tafsir—yang dimaksud dengan ilmu haruslah memuat objek yang empiris serta dapat diterima dengan logis. Lebih lanjut, Tafsir membuat matriks pengetahuan manusia sebagai berikut:

Tabel 1. Matriks Pengetahuan Manusia

(Diadaptasi dari Ahmad Tafsir)

Berdasarkan pengertian dan matriks di atas, maka yang dimaksud dengan ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh manusia atas dasar riset, bersifat empiris dan dapat dilakukan dengan menggunakan indera dan akal. Pertanyaannya kemudian, apakah Pendidikan Islam sudah memenuhi aspek-aspek tentang Ilmu tersebut atau belum?. Jika sudah maka Pendidikan Islam dapat dikategorikan sebagai ilmu (science), akan tetapi jika salah satu syaratnya hilang, maka Pendidikan Islam belum “layak” dikategorikan sebagai suatu ilmu (science). Seperti disinggung dimuka, bahwa Ilmu Pendidikan Islam secara teoritikal merupakan pengetahuan yang membahas tentang teori-toeri pendidikan yang berdasarkan atas Islam, yang oleh karenanya pembahasan yang dimuat dalam Ilmu Pendidikan Islam adalah teori-teori yang terkait dengan pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadits.

C. Ruang Lingkup Ilmu Pendidikan Islam

Sebagaimana pengertiannya, maka lingkup bahasan yang menjadi kajian Ilmu Pendidikan Islam ini adalah masalah-masalah pendidikan atas dasar ajaran Islam yang mencakup aspek tujuan, pendidik, anak didik, bahan, metode, kurikulum, alat, evaluasi dan lembaga-lembaga yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan Islam.

D. Fungsi Pendidikan Islam

Secara sederhana, fungsi Pendidikan Islam adalah sarana untuk menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan Islam dapat tercapai dan berjalan dengan lancar. Menurut Kurshid Ahmad, fungsi pendidikan Islam adalah:

  1. Alat untuk memelihara, memperluas dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasional
  2. Alat untuk mengadakan perubahan, inovasi dan perkembangan yang secara garis besarnya melalui pengetahuan dan skill yang baru ditemukan dan melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif untuk menemukan perimbangan perubahan sosial dan ekonomi.



E. Sumber Rujukan

Arifin, HM., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000, cet.ke-5

Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2000, cet.ke-2

Daradjat, Zakiah, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000, cet. ke-4

Muhamin, et.al., Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, Bandung: PT. Trigenda Karya, 1993, cet. ke-1

Mulkhan, Abdul Munir, Nalar Spiritual Pendidikan; Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 2002, cet.ke-1

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 1994, cet. ke-1

Soebahar, H. Abd. Halim, Wawasan Baru Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002, cet.ke-1

Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001, cet.ke-4

]Disampaikan pada perkuliahan Kedua Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Islam di Program Studi Pendidikan IPS, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu, 09 Maret 2011

[1]Lihat, Abdul Halim Soebahar, Wawasan Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), cet.ke-1, h. 2. Konfrensi tersebut merekomenadikan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah “totality in context of Islam inherent in the conotation of three each these term conveys concerning man in his society and environment in relation to God Islam related to ten other and together they represent the scope of education in Islam both “Formal” and “non Formal” (Conference Book, 1997: 1).

[2]Wa mã ãtaitum min ribban liyarbũ fi amwãli al-nas falã yarbũ ‘inda Allah (Dan suatu riba (tambahan) yang kalian berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.

[3]rabbi irhamhumâ kamâ rabbayâni shaghirâ (ya Tuhan, sayangilah keduanya (ibu-bapak) sebagaimana mereka telah memelihara (mengasuhku) sejak kecil).

[4]Muhaimin, et.al., Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofisdan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung: PT. Trigenda Karya, 1993), cet.ke-1, h. 133-134

[5]Lihat, Abd. Halim Soebahar, Op. Cit., h. 4-5, dan Muhamin, et.al., Ibid., h. 132

[6]Muhaimin, et.al., Loc.Cit., h. 134

[7]Yusuf Al Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna, terj. Prof. H. Bustami A. Ghani dan Drs. Zainal Arifin Ahmad, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h. 157

[8]Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam (Bandung: Al Ma’arif, 1980), h. 94

[9]Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2000), cet.ke-2, h. 8

[10]Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), cet. ke-4, h. 27-28

[11]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), cet.ke-4, h. 15